MAKALAH
ILMIAH
MODEL
PEMBELAJARAN
KOOPERATIF
Disusun Oleh :
Nama : M U R T A J I, S.Pd
NIP : 19750611
201406 1 002
Instansi : SD
Negeri 3 Kacamarga
PEMERINTAH
KABUPATEN TANGGAMUS
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur atas
kehadirat Tuhan yang maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat, dan karunia-Nya
sehingga makalah ilmiah ini dapat terselesaikan. Makalah ilmiah Model
Pembelajaran Kooperatif ini disusun untuk memenuhi kelengkapan sebagai
persyaratan penyesuaian golongan, oleh karana itu pada kesempatan ini
disampaikan terimah kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah
memberikan dorongan sehingga makalah ini terselesaikan.
Saya menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyampurnaan tugas selanjutnya. Akhir
kata semoga apa yang telah di kerjakan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja
yang memerlukan.
Cukuhbalak; 07 Mei 2016
Penyusun
M U R T A J I,
S.Pd
NIP. 19750611 201406 1 002
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................... 2
DAFTAR ISI ........................................................... 3
DAFTAR TABEL ........................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................... 5
B. Ruang Lingkup Penulisan ........................................................... 5
C. Tujuan Penulisan ........................................................... 6
D. Identifikasi Masalah ........................................................... 6
E. Rumusan Masalah ........................................................... 6
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA
PIKIR
A. Deskripsi Teoritis ........................................................... 7
B. Kerangka Pikir ........................................................... 7
C. Hipotesis ........................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN
A. Penegertian Pembelajaran Kooperatif ........................................................... 11
B. Prinsip-prinsip dan Krakteristik
Pembelajaran Kooperatif............................. 11
C. Prosedur Pembelajaran Kooperatif ........................................................... 12
D. Tujuan Pembelajaran Kooperatif ........................................................... 13
E. Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif ........................................................... 14
F. Kelebihan dan Kekurangan
Pembelajaran Kooperatif ................................... 19
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................... 21
B. Saran ........................................................... 21
DAFTAR
TABEL
KEGIATAN PEMBALAJARN KOOPERATIF .............................................. 22
FASE PEMBALAJARN KOOPERATIF ............................................... 23
PERBANDINGAN EMPAT PENDEKATAN PEMBALAJARN KOOPERATIF. 24
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Fenomena yang muncul dalam sistem persekolahan yang ada sekarang ini
cenderung memperlakukan siswa secara kurang adil dan kurang humanistis. Siswa
pandai diberi label unggul dengan segala fasilitas yang diberikannya, sementara
siswa yang di kelas tak unggul memperoleh label kurang dan predikat negatif
yang lain. Siswa pada kelompok unggul berkompetisi secara keras dan cenderung
individualistik. Sementara siswa di kelas tidak unggul merasa tidak mampu, dan
frustasi. Selain itu salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita
adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak
kurang didorong untuk kemampuan berpikir didalam kelas diarahkan pada kemampuan
anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun
berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk
menghubungkannya dengan kehidupan seharihari. Akibatnya, ketika peserta didik
kita lulus dari sekolah mereka pintar secara teoritis akan tetapi miskin akan
aplikasi. Oleh sebab itu seorang pendidik harus memiliki kemampuan mendisain strategi
pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan.
Model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar
mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari
pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang
ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat
dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas
berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif
mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam
memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Hal
ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk
aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.
B. Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup
penulisan makalah ini adalah tentang model pembelajaran Kooperatif yang
dilakukan seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas supaya pembelajaran
lebih terarah dan bermakna. Pembelajaran akan lebih bermakna dan runtut bila
pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan dan model pembelajaran yang
sesuai tentunya dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan
karakter siswa.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1.
Mengetahui tentang pengertian dari pembelajaran kooperatif.
2.
Mengerti prinsip dan karakteristik dari pembelajaran
kooperatif.
3.
Mengetahui prosedur pembelajaran kooperatif
4.
Mengetahui tipetipe dari pembelajaran kooperatif.
5.
Mengetahui tujuan pembelajaran kooperatif.
6.
Mengerti kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran kooperatif.
D. Identifikasi Masalah
1.
Tidak mengerti pembelajaran kooperatif.
2.
Tidak tau perinsip dan karakteristik pembelajaran
kooperatif.
3.
Tidak tau prosedur pembelajaran kooperatif.
4.
Tidak mengetahui tipe-tipe pembelajaran kooperatif.
5.
Tidak memahami tujuan pembelajaran kooperatif.
6.
Tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran
kooperatif.
E. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1.
Apa pengertian dari pembelajaran kooperatif ?
2.
Apa saja prinsip dan karakteristik pembelajaran kooperatif ?
3.
Apa saja prosedur pembelajaran kooperatif ?
4.
Apa saja tipe-tipe dari pembelajaran kooperatif ?
5.
Apa saja tujuan pembelajaran kooperatif ?
6.
Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif ?
BAB II
KAJIAN TEORI
DAN KERANGKA PIKIR
A.
Deskripsi
Teoritis
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan belajar bersama antara dua orang atau lebih,
sedangkan kooferative learning dalam artian yang lebih luas memiliki definisi yang antara lain
adalah belajar bersama yang melibatkan antara 4-5 orang, yang bekerja bersama menuju kelompok
kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian dari hasil yang
tak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama antar kelompok.
Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) mengandung arti
keterlibatan secara proaktif antar kelompok yang melibatkan
pada proses kognisi, afeksi, dan konasi. Sugandi (2002:14)
menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja
kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif
sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat
interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”. Dari uraian tersebut dapat diperoleh
kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif
dengan cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling
bekerja sama, berinteraksi, dan
bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum
selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran
gotong royong) dalam pendidikan adalah homo
homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Model pembelajaran
kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif
juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
B.
Kerangka
Pikir
Komponen belajar menurut Gagne dalam Gradler ada lima golongan ragam
belajar, yaitu informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik,
sikap dan siasar kognitif. Kelima macam siasat belajar tersebut masing-masing
diperoleh dengan cara berlainan. Artinya masing-masing memerlukan keterampilan
prasyarat yang berbeda dan perangkat serta langkah yang berbeda. Persyaratan
ini oleh Gagne disebut dengan kondisi
belajar internal. Selanjutnya jenis-jenis stimulus lingkungan yang
diperlukan untuk menunjang proses kognitif siswa waktu belajar disebut kondisi eksternal belajar.
Kapasitas untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah
laku yang hampir-hampir tidak ada batasnya (Gagne, 1977) dalam Bell Gredler
(1991:186). Melalui belajar orang akan memperoleh berbagai keterampilan,
pengetahuan dan sikap serta nilai. Karena itu, belajar akan menghasilkan
berbagai macam tingkah laku yang sejalan, yang oleh Gagne disebut kapabilitas. Kapabilitas diperoleh dari
seseorang dari (1) stimulus yang berasal dari lingkungan dan (2) proses
kognitif yang dilakukan oleh si belajar. Didefinisikan secara formal belajar
ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan
menjadi tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh
kapabilitas baru (Gagne & Briggs dalam Bell Gredler, 1991:187).
Selanjutnya dalam pembelajaran selalu mengaruh pada proses dan hasil.
Hasil belajar diartikan sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar
dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan program pendidikan yang
telah ditetapkan (Sudijarto, 1994:49). Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah
(1994:24) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah penilaian pendidikan
tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang
menyangkut pengetahuan atau kecakapan/keterampilan yang dinyatakan sesudah
penilaian. Sudjana (2001:22) mendefinisikan hasil belajar adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman
belajarnya.
Hasil belajar sering diwujudkan dalam bentuk perubahan prilaku dan
perubahan pribadi seseorang setelah proses pembelajaran berlangsung. Hasil
belajar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : (1) keterampilan dan kebiasaan,
(2) pengetahuan dan pengertian, dan (3) sikap dan cita-cita.
Berdasarkan berbagai pendapat di atas perolehan belajar atau hasil belajar
merupakan kapasitas terukur dari perubahan individu yang diinginkan berdasarkan
ciri-ciri atau variabel-variabel bawaannya melalui perlakukan pembelajaran
tertentu. Hasil belajar merupakan hasil kegiatan dari belajar dalam bentuk
pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan
siswa. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan apa yang diperoleh siswa dari
proses belajar.
C.
Hipotesis
Hal yang sangat urgent menentukan kualitas sisiwa adalah pembelajaran yang
dilakukan oleh guru dan siswa. Pembelajaran kooperatif didasari oleh falsafah homo homini socius. Pembelajaran kooperatif
adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme.
Panen, Mustafa, dan Sekarwinahyu (2001:69) mengemukakan bahwa “Belajar
kooperatif kolaboratif merupakan proses konstruktivisme sosial yang menjadi
salah satu proses konstruksi pengetahuan yang relatif dominan dalam diri
individu sebagai makhluk sosial.”
Pembelajaran kooperatif merupakan
pembelajaran yang didasari azas gotong royong dan baik sesuai dengan kehidupan
masyarakat Indonesia yang sangat mengutamakan azas gotong royong dalam
kehidupan sehari-hari. Banyak ahli yang telah mencoba mengemukakan pengertian
pembelajaran kooperatif. Menurut Lie (2007:12) :
Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong
royong adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik
untuk berbagaik dengan sesama siswa dalam tugas terstruktur, dimana dalam
sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator.
Dalam pengertian lain, Eggen dan Kauchan dalam
Triantor (2007:42) menyatakan “Pembelajaran kooperatif adalah sekelompok dari
strategi yang melibatkan siswa untuk berkolaborasi mencapai tujuan tertentu.”
Manusia merupakan individu yang berbeda satu sama
lain yang memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa
depan yang berbeda. Karena adanya perbedaan ini, manusia yang satu membutuhkan
manusia yang lain sehingga manusia harus menjadi makhluk sosial yang
berinteraksi dengan sesama. Seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman dan
Bintoro dalam Nurhadi, dkk (2004:60) :
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang
secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling mencerdaskan,
saling menyayangi dan saling tenggang rasa antar sesama siswa sebagai latihan
untuk hidup dalam masyarakat nyata, sehingga sumber belajar bukan hanya dari
guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Selanjutnya Ibrahim, dkk (2000:9) menyatakan :
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada
siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk berbaik saling bergantung
satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur
penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
Sedangkan Aburrahman (1999:122) mengatakan :
Nilai hasil belajar kelompok ditentukan oleh
rata-rata hasil belajar individu pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya
dalam bentuk belajar kelompok. Dalam belajar kooperatif anak tidak
diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada orang lain, tiap
anggota kelompok dituntut untuk memberikan urunan bagi keberhasilan kelompok.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan
pembelajaran kooperatif adalah salah satu strategi pembelajaran dimana siswa
dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat sampai enam
orang yang heterogen untuk berbaik, saling membantu diantara anggota kelompok
untuk menyelesaikan tugas bersama. Dengan pembelajaran kooperatif ini siswa
belajar berkolaborasi untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam
suasana belajar kelompok yang nantinya dapat mencapai potensi yang optimal.
Akan tetapi para pengajar sangat enggan menerapkan
pembelajaran di kelas dengan azas gotong royon. Lie (2007:27) mengemukakan
beberapa alasan mengapa para pengajar enggan menerapkan azas tersebut, demikian
diantaranya :
a. Kekhawatiran akan terjadinya kekacauan di kelas
b. Adanya siswa yang tidak suka belajar berkelompok,
lebih memilih belajar secara individu.
c. Siswa yang malas lebih mengandalkan temannya yang
tekun dan siswa yang tekun merasa dituntut bekerja secara ekstra dalam
kelompoknya.
d. Adanya perasaan minder bagi siswa yang kurang
mampu belajar bersama siswa yang lebih pandai.
Hal-hal tersebut diatas dapat dikendalikan oleh
pembelajaran kooperatif, karena pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur
tertentu untuk memungkinkan proses belajar dan pembelajaran di kelas secara
efektif.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) secara etimologi
mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan
kooferative learning dalam artian yang lebih luas memiliki definisi yang antara
lain adalah belajar bersama yang melibatkan antara 4-5 orang, yang bekerja bersama
menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu
sebagai bagian dari hasil yang tak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama
antar kelompok. Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) mengandung
arti keterlibatan secara proaktif antar kelompok yang melibatkan pada proses
kognisi, afeksi, dan konasi.
Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari
sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif
ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan
terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi
efektif diantara anggota kelompok”. Dari uraian tersebut dapat diperoleh
kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran
efektif dengan cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling bekerja sama,
berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran
kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam
kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran
gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa
manusia adalah makhluk sosial.
Model pembelajaran
kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran
kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran
kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
B. Prinsip-Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
a.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran
Kooperatif
Prinsip dasar
pembelajaran kooperatife memiliki 4 prinsip dasar :
1.
Prinsip ketergantungan positif
Dalam pembelajaran
kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung terhadap
usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya.
2.
Tanggung jawab perseorangan
Prinsip ini merupakan
konsekuensi dari prinsip yang pertama karena keberhsilan kelompok tergantung
setiap anggotanya. Maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai
tugasnya.
3.
Interaksi tatap muka
Pembelajaran kooperatif
memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk
bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap
muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok
untuk bekerjasama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan
masingmasing anggota dan mengisi kekurangan masingmasing.
4.
Partisipasi dan komunikasi
Pembelajaran kooperatif
melatih siswa untuk berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini
sangat penting sebagai bekal mereka dikehidupan masyarakat kelak. Oleh karena
itu, sebelum melakukan pembelajaran guru perlu membekali siswa dengan kemampuan
berkomunikasi.
b.
Karakteristik
Pembelajaran Kooperatif
1.
Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka
“sehidup sepenanggungan”.
2.
Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam
kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam
mempelajari materi yang dihadapi.
3.
Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam
kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.
Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama
diantara anggota kelompoknya.
5.
Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan
berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.
Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7.
Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual
materi yang ditangani di dalam kelompoknya.
C. Prosedur pembelajaran kooperatif
a.
Menetapkan tujuan pembelajaran, aktifis dan penghargaan
Yaitu membuat keputusan
sejak awal tentang tujuan pembelajaran dan jenis aktifitas yang sesuai dengan
mereka. Keputusan harus dibuat tentang apakah tujuan pembelajaran diambil dari
domain kognitif (dalam area keahlian akademis), afektif (dalam area sikap dan
nilai), atau domain psikomotor (kealian fisik). Tugas lain menanyakan keahlian
yangdiperlukan untuk bekerjasama untuk tujuan kelompok (Johnson 1988).
Penghargaan itu sendiri perlu untuk dipilih. Kebanyakan guru lebih suka memilih
penghargaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan ekspetasi kelompok.
b.
Komposisi kelompok
Merupakan bentuk praktek
yang baik untuk membentuk kelompok yang terdiri dari seorang siswa yang
mempunyai kemampuan diatas ratarata. Dua sampai empat siswa dengan kemampuan
rata-rata dan seorang siswa dengan kemampuan dibawah rata- rata atau anakanak dengan
kebutuhan khusus.
c.
Kerja sama yang efektif
Yaitu dengan cara
menjelaskan kepada siswa bagaimana cara anggota kelompok harus bekerja sama
antara satu dengan yang lainnya. Prosedur untuk kerjasama yang efektif harus
dibuat secara eksplisit. Kolaborasi diantara siswa vital untuk kesuksesan
prosedur ini.
d.
Prilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima
Guru harus memberikan
penjelasan secara tegas tentang apa yang akan diterima dan yang tidak dapat
diterima dalam kelompok dengan tepat sebelun kelompok mulai mengerjakan
tugasnya.
e.
Periode percobaan dan umpan balik
f.
Guru harus memberikan umpan balik kepada kelompok tentang
kualiatas kelompok dan kinerja indivu. Penting bagi individu untuk menerima
umpan balik secara awal.
g.
Bantuan dari guru kepada siswa
Guru atau pengajar khusus
harus dipersiapkan untuk memberikan bantuan ekstra atau bantuan tambahan kepada
siswa yang mempunyai masalah belajar ketika hal itu diperlukan. Siswa harus diberitahukan
bagaimana dan kapan mereka harus mencari bantuan tersebut.
h.
Melakukan evaluasi
Guru harus melakukan
evaluasi tentang prosedur pembelajaran kooperatif learning. Kebanyakan guru
ingin memberikan pertanyaan yang lebih tepat tentang evaliasi. Kulitas hasil
dan jumlah wakti yang diperlukan untuk pembentukan kelompok perlu
dipertimbangkan.
D. Tujuan pembelajaran kooperatif
a.
Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif
bertujuan untuk meningkatkan kerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
b.
Penerimaan terhadap
penerimaan terhadap individu
Efek penting yang kedua
adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya,
kelas social, kemampuan dan ketidakmampuan.
c.
Pengembangan ketermpilan
social
Model pembelajaran
kooperatif bertujuan mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan
kolaborasi.
E. TipeTipe dari Pembelajaran Kooperatif
Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif.
a.
Tipe STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif
tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert
Slavin dan temantemannya di Universitas John Hopkin merupakan pembelajaran kooperatif
yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok
digunakan oleh guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut: Presentasi
kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode
pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan
untuk mengikuti tes berikutnya.
1.
Kerja kelompok.
Kelompok terdiri dari 4-5
orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan
masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok
diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya saling membantu dalam memahami
materi pelajaran.
2.
Tes.
Setelah kegiatan
presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam
menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu.
3.
Peningkatan skor individu.
Setiap anggota kelompok
diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan
kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.
4.
Penghargaan kolompok.
Kelompok yang mencapai
ratarata skor tertinggi, diberikan penghargaan.
b.
Tipe Think Pair Share
ThinkPairShare merupakan
salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari
Universitas Maryland pada tahun 1985. ThinkPairShare memberikan kepada para
siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain.
Tahapan pembelajaran
kooperatif tipe ThinkPairShare adalah sebagai berikut:
1.
Berpikir (Think): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang
terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan
atau isu tersebut secara mandiri.
2.
Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk
berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi
selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan
telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah
diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk
berpasangan
3.
Berbagi (Share): Pada langkah akhir ini guru meminta
pasanganpasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara
keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan
menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang
lain, sehingga seperempat atau setengah dari pasanganpasangan tersebut
memperoleh kesempatan untuk melapor.
c.
Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif
tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa
anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian
materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam
kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model
pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri
dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang
positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang
harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.
d.
Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala bernomor) dikembangkan Spencer Kagan.
Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan
pertimbangan jawaban yang paling tepat. Selain itu teknik ini mendorong siswa
untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Maksud dari kepala bernomor
yaitu setiap anak mendapatkan nomor tertentu, dan setiap nomor mendapatkaan
kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi.
Adapun langkahlangkah model
pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together antara lain:
1.
Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap
kelompok mendapat nomor.
2.
Guru memberikan tugas dan masingmasing kelompok
mengerjakannya.
3.
Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan
tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
4.
Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang
dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5.
Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
yang lain.
e.
Tipe GI (Group Investigation)
Pembelajaran kooperatif
tipe GI didasari oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan yang menyimpulkan
bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk
belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalahmasalah
sosial dan antar pribadi. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing
para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah
itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis.
Tahapantahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai
berikut:
1.
Tahap Pengelompokan (Grouping),
Yaitu tahap
mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok
investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini,
yang pertama siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan
kategorikategori topik permasalahan kemudian siswa bergabung pada
kelompokkelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk
diselidiki, lalu guru membatasi jumlah anggota masingmasing kelompok antara 4
sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.
2.
Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap
perencanaan tugastugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersamasama merencanakan
tentang: Apa yang mereka pelajari?, Bagaimana mereka belajar?, Untuk tujuan apa
mereka menyelidiki topik tersebut?
3.
Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation,
yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan
kegiatan sebagai berikut: pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis
data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang
diselidiki, kemudian masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada
setiap kegiatan kelompok, lalu siswa saling bertukar, berdiskusi,
mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat.
4.
Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan
laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: pertama anggota
kelompok menentukan pesanpesan penting dalam proteknya masingmasing, kemudian anggota
kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya,
lalu wakil dari masingmasing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam
presentasi investigasi.
5.
Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu
tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini
adalah sebagai berikut: pertama, penyajian kelompok pada keseluruhan kelas
dalam berbagai variasi bentuk penyajian, kelompok yang tidak sebagai penyaji
terlibat secara aktif sebagai pendengar, kemudian pendengar mengevaluasi,
mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang
disajikan.
6.
Tahap Evaluasi (Evaluating)
Pada tahap evaluating
atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan
guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: pertama siswa menggabungkan
masukanmasukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan
tentang pengalamanpengalaman efektifnya, kemudian guru dan siswa
mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan
penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.
f.
Tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And
Composition)
Pembelajaran CIRC
dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif
tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif
yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya
menjadi bagianbagian yang penting. Dalam model pembelajaran ini, siswa
ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4
atau 5 siswa. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah,
dan masingmasing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok
ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa.
Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran
kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk
kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa
diajari menjadi pendengar yang baik, siswa juga dapat memberikan penjelasan
kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama,
menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Model pembelajaran ini, dibagi menjadi
beberapa fase :
1.
Fase Orientasi
Pada fase ini, guru
memberikan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain
itu guru juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.
2.
Fase Organisasi
Guru membagi siswa ke
dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik.
Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain
itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan
selama proses pembelajaran berlangsung.
3.
Fase Pengenalan Konsep
Dengan cara mengenalkan
tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi.
Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kliping, poster
atau media lainnya.
4.
Fase Publikasi
Siswa mengkomunikasikan
hasil temuantemuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas
baik dalam kelompok maupun di depan kelas.
5.
Fase Penguatan dan Refleksi
Pada fase ini guru
memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasanpenjelasan
ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya siswa
pun diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
g.
Tipe Membuat Pasangan (Make A Match)
Metode pembelajaran make
a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah
satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai
suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkahlangkah penerapan
metode make a match sebagai berikut :
1.
Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep
atau topik yang cocok untuk sesi pemilihan, satu bagian kartu soal dan bagian
lainnya kartu jawaban.
2.
Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan
soal/jawaban.
3.
Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.
Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan
kartunya.
5.
Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas
waktu diberi poin.
6.
Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu
temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan
hukuman, yang telah disepakati bersama.
7.
Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa
mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.
Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang
memegang kartu yang cocok.
9.
Guru bersamasama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap
materi pelajaran.
h.
Tipe TSTS ( Two Stay Two Stray)
Model pembelajaran
kooperatif tipe TSTS (Two Stay Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan.
Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan
usia. Metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem
pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama,
bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong
untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan
baik.
Langkahlangkah pelaksanaan
model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray seperti yang diungkapkan,
antara lain:
1.
Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap
kelompoknya terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentuk pun merupakan
kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray
yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling
membelajarkan dan saling mendukung. Guru memberikan subpokok bahasan pada
tiaptiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing.
Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang. Hal ini bertujuan
untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif
dalam proses berpikir. Setelah selesai, dua orang dari masingmasing kelompok
meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Dua orang yang tinggal
dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu
mereka. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan
temuan mereka dari kelompok lain. Kelompok mencocokkan dan membahas hasilhasil kerja
mereka. Masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.
F. Kelebihan dan Kekurangan dari Pembelajaran Kooperatif
a.
Keunggulan Pembelajaran
Kooperatif
1.
Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu
menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir
sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang
lain.
2.
Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan,
mengungkapkan ide atau gagasan dengan katakata secara verbal dan membandingkannya
dengan ide-ide orang lain.
3.
Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk
menhargai orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima
segala perbedaan.
4.
Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap siswa
untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.
Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup
ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk
mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang
lain, mengembangkan keterampilan, dan sikap positif terhadap sekolah.
6.
Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Siswa
dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang
dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.
Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan
siswa mengelola informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8.
Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan
motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan
jangka panjang.
b.
Kelemahan Model
Pembelajaran Kooperatif
1.
Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang,
disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.
Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka
dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
3.
Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada
kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4.
Saat diskusi terkadang didominasi seseorang, hal ini
mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
5.
Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip.Hal ini terjadi
jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti
datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja
sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan
cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi,
dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif,
belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum
menguasai bahan pelajaran. Prinsipprinsip pembelajaran kooperatif yaitu saling
ketergantungan positif, interaksi tatap muka, tanggung jawab perseorangan,
komunikasi antar anggota kelompok, evaluasi proses kelompok.
Karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu siswa harus memiliki tujuan
yang sama, rasa saling menolong, saling bertukar pikiran, saling menghargai,
saling membagi tugas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara kolompok. Tipetipe
pembelajaran kooperatif yaitu tipe STAD (Student
Team Achievement Division) yang dikembangkan oleh Slavintahun 1978, tipe
Jigsaw yang dikembangkan oleh Elliot Arronson dan temannya tahun 1978, tipe GI (Group Investigation) oleh Sholomo
Sharan dan temannya tahun 1984, tipe TSP (Think
Pair Share), tipe NHT (Numbered Heads
Together), tipe TSTS (Two Stay Two Stray)
yang dikembangkan oleh Spencer Kagan, tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang dikembangkan
oleh Slavin, Stevans, Madden, dan Farnish, tipe Membuat Pasangan (Make A Match) dikembangkan oleh Lorna
Curran tahun 1994.
Keunggulan model
pembelajaran kooperatif yaitu: siswa tidak bergantung kepada guru, mampu mengekplorasikan
ide dan gagasannya, saling menerima perbedaan, saling bertukar pendapat, meningkatkan
semangat belajar, siswa menjadi aktif. Kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu:
dibutuhkan tenaga yang lebih dari guru untuk mengatur siswadan menyiapkan
materi, dapat terjadi perdebatan kecil, siswa lebih cenderung bergurau dengan
temannya, membutuhkan fasilitas yang memadai, terjadi perluasan masalah
sehingga waktu terbuang siasia, terkadang diskusi didominasi seseorang saja
sehingga siswa lain menjadi pasif.
B. Saran
Untuk para pengajar dalam proses pembelajaran lebih baik menggunakan strategi
kooperatif dengan berbagai tipe seperti penjelasan di atas karena dapat membuat
siswa lebih cepat menerima daripada menggunakan strategi yang konvensional.
Apabila menggunakan
pembelajaran kooperatif guru harus selalu membimbing siswa dalam berdiskusi
agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk mendapatkan hasil yang optimal
setiap siswa harus aktif dalam berdiskusi dan harus saling menghargai setiap
pendapat, ide, atau gagasan dari anggota yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar