Selasa, 10 Mei 2016

Model Pembelajaran Kooperatif


MAKALAH ILMIAH
MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF


Disusun Oleh :
Nama        :        M U R T A J I,  S.Pd
NIP            :        19750611 201406 1 002
Instansi    :        SD Negeri 3 Kacamarga


PEMERINTAH KABUPATEN TANGGAMUS
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN



KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur atas kehadirat Tuhan yang maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat, dan karunia-Nya sehingga makalah ilmiah ini dapat terselesaikan. Makalah ilmiah Model Pembelajaran Kooperatif ini disusun untuk memenuhi kelengkapan sebagai persyaratan penyesuaian golongan, oleh karana itu pada kesempatan ini disampaikan terimah kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah memberikan  dorongan sehingga makalah ini terselesaikan.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyampurnaan tugas selanjutnya. Akhir kata semoga apa yang telah di kerjakan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang memerlukan.



Cukuhbalak;  07 Mei 2016
Penyusun



M U R T A J I,  S.Pd
NIP. 19750611 201406 1 002


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR                                   ........................................................... 2
DAFTAR ISI                                                  ........................................................... 3
DAFTAR TABEL                                          ........................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang                                           ........................................................... 5
B. Ruang Lingkup Penulisan                          ........................................................... 5
C. Tujuan Penulisan                                        ........................................................... 6
D. Identifikasi Masalah                                  ........................................................... 6
E. Rumusan Masalah                                      ........................................................... 6
BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR
A. Deskripsi Teoritis                                       ........................................................... 7
B. Kerangka Pikir                                           ........................................................... 7   
C. Hipotesis                                                    ........................................................... 8
BAB III PEMBAHASAN
A.    Penegertian Pembelajaran Kooperatif       ........................................................... 11
B.     Prinsip-prinsip dan Krakteristik Pembelajaran Kooperatif.............................      11
C.     Prosedur Pembelajaran Kooperatif           ........................................................... 12
D.    Tujuan Pembelajaran Kooperatif              ........................................................... 13
E.     Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif           ........................................................... 14
F.      Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif      ................................... 19
BAB IV PENUTUP                                                                  
A.    Kesimpulan                                             ........................................................... 21
B.     Saran                                                      ........................................................... 21


DAFTAR TABEL

KEGIATAN PEMBALAJARN KOOPERATIF      ..............................................  22
FASE PEMBALAJARN KOOPERATIF                 ............................................... 23
PERBANDINGAN EMPAT PENDEKATAN PEMBALAJARN KOOPERATIF.          24


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Fenomena yang muncul dalam sistem persekolahan yang ada sekarang ini cenderung memperlakukan siswa secara kurang adil dan kurang humanistis. Siswa pandai diberi label unggul dengan segala fasilitas yang diberikannya, sementara siswa yang di kelas tak unggul memperoleh label kurang dan predikat negatif yang lain. Siswa pada kelompok unggul berkompetisi secara keras dan cenderung individualistik. Sementara siswa di kelas tidak unggul merasa tidak mampu, dan frustasi. Selain itu salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk kemampuan berpikir didalam kelas diarahkan pada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan seharihari. Akibatnya, ketika peserta didik kita lulus dari sekolah mereka pintar secara teoritis akan tetapi miskin akan aplikasi. Oleh sebab itu seorang pendidik harus memiliki kemampuan mendisain strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang diajarkan.

Model pembelajaran memiliki andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Kemampuan menangkap pelajaran oleh siswa dapat dipengaruhi dari pemilihan model pembelajaran yang tepat, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan akan tercapai. Terdapat berbagai macam model pembelajaran yang dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk menjadikan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung efektif dan optimal. Salah satunya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif.

Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama antar siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki manfaat atau kelebihan yang sangat besar dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengembangkan kemampuannya. Hal ini dikarenakan dalam kegiatan pembelajaran kooperatif, siswa dituntut untuk aktif dalam belajar melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok.

B.     Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan makalah ini adalah tentang model pembelajaran Kooperatif yang dilakukan seorang guru dalam proses pembelajaran di kelas supaya pembelajaran lebih terarah dan bermakna. Pembelajaran akan lebih bermakna dan runtut bila pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan dan model pembelajaran yang sesuai tentunya dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa.

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu:
1.      Mengetahui tentang pengertian dari pembelajaran kooperatif.
2.      Mengerti prinsip dan karakteristik dari pembelajaran kooperatif.
3.      Mengetahui prosedur pembelajaran kooperatif
4.      Mengetahui tipetipe dari pembelajaran kooperatif.
5.      Mengetahui tujuan pembelajaran kooperatif.
6.      Mengerti kelebihan dan kekurangan dari pembelajaran kooperatif.

D.    Identifikasi Masalah
1.      Tidak mengerti pembelajaran kooperatif.
2.      Tidak tau perinsip dan karakteristik pembelajaran kooperatif.
3.      Tidak tau prosedur pembelajaran kooperatif.
4.      Tidak mengetahui tipe-tipe pembelajaran kooperatif.
5.      Tidak memahami tujuan pembelajaran kooperatif.
6.      Tidak mengetahui kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif.

E.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu :
1.      Apa pengertian dari pembelajaran kooperatif ?
2.      Apa saja prinsip dan karakteristik pembelajaran kooperatif ?
3.      Apa saja prosedur pembelajaran kooperatif ?
4.      Apa saja tipe-tipe dari pembelajaran kooperatif ?
5.      Apa saja tujuan pembelajaran kooperatif ?
6.      Apa kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif ?



BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A.    Deskripsi Teoritis
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan kooferative learning dalam artian yang lebih luas memiliki definisi yang antara lain adalah belajar bersama yang melibatkan antara 4-5 orang, yang bekerja bersama menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian dari hasil yang tak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama antar kelompok.

Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) mengandung arti keterlibatan secara proaktif antar kelompok yang melibatkan pada proses kognisi, afeksi, dan konasi. Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”. Dari uraian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

B.     Kerangka Pikir
Komponen belajar menurut Gagne dalam Gradler ada lima golongan ragam belajar, yaitu informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap dan siasar kognitif. Kelima macam siasat belajar tersebut masing-masing diperoleh dengan cara berlainan. Artinya masing-masing memerlukan keterampilan prasyarat yang berbeda dan perangkat serta langkah yang berbeda. Persyaratan ini oleh Gagne disebut dengan kondisi belajar internal. Selanjutnya jenis-jenis stimulus lingkungan yang diperlukan untuk menunjang proses kognitif siswa waktu belajar disebut kondisi eksternal belajar.

Kapasitas untuk belajar memungkinkan diperolehnya berbagai pola tingkah laku yang hampir-hampir tidak ada batasnya (Gagne, 1977) dalam Bell Gredler (1991:186). Melalui belajar orang akan memperoleh berbagai keterampilan, pengetahuan dan sikap serta nilai. Karena itu, belajar akan menghasilkan berbagai macam tingkah laku yang sejalan, yang oleh Gagne disebut kapabilitas. Kapabilitas diperoleh dari seseorang dari (1) stimulus yang berasal dari lingkungan dan (2) proses kognitif yang dilakukan oleh si belajar. Didefinisikan secara formal belajar ialah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulus dari lingkungan menjadi tahapan pengolahan informasi yang diperlukan untuk memperoleh kapabilitas baru (Gagne & Briggs dalam Bell Gredler, 1991:187).

Selanjutnya dalam pembelajaran selalu mengaruh pada proses dan hasil. Hasil belajar diartikan sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program pembelajaran sesuai dengan program pendidikan yang telah ditetapkan (Sudijarto, 1994:49). Hal ini sesuai dengan pendapat Djamarah (1994:24) yang mengatakan bahwa hasil belajar adalah penilaian pendidikan tentang kemajuan siswa dalam segala hal yang dipelajari di sekolah yang menyangkut pengetahuan atau kecakapan/keterampilan yang dinyatakan sesudah penilaian. Sudjana (2001:22) mendefinisikan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

Hasil belajar sering diwujudkan dalam bentuk perubahan prilaku dan perubahan pribadi seseorang setelah proses pembelajaran berlangsung. Hasil belajar dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : (1) keterampilan dan kebiasaan, (2) pengetahuan dan pengertian, dan (3) sikap dan cita-cita.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas perolehan belajar atau hasil belajar merupakan kapasitas terukur dari perubahan individu yang diinginkan berdasarkan ciri-ciri atau variabel-variabel bawaannya melalui perlakukan pembelajaran tertentu. Hasil belajar merupakan hasil kegiatan dari belajar dalam bentuk pengetahuan sebagai akibat dari perlakuan atau pembelajaran yang dilakukan siswa. Dengan kata lain, hasil belajar merupakan apa yang diperoleh siswa dari proses belajar.

C.    Hipotesis
Hal yang sangat urgent menentukan kualitas sisiwa adalah pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Pembelajaran kooperatif didasari oleh falsafah homo homini socius. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivisme. Panen, Mustafa, dan Sekarwinahyu (2001:69) mengemukakan bahwa “Belajar kooperatif kolaboratif merupakan proses konstruktivisme sosial yang menjadi salah satu proses konstruksi pengetahuan yang relatif dominan dalam diri individu sebagai makhluk sosial.”

Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang didasari azas gotong royong dan baik sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat mengutamakan azas gotong royong dalam kehidupan sehari-hari. Banyak ahli yang telah mencoba mengemukakan pengertian pembelajaran kooperatif. Menurut Lie (2007:12) :
Pembelajaran kooperatif atau pembelajaran gotong royong adalah sistem pengajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk berbagaik dengan sesama siswa dalam tugas terstruktur, dimana dalam sistem ini guru bertindak sebagai fasilitator.

Dalam pengertian lain, Eggen dan Kauchan dalam Triantor (2007:42) menyatakan “Pembelajaran kooperatif adalah sekelompok dari strategi yang melibatkan siswa untuk berkolaborasi mencapai tujuan tertentu.”

Manusia merupakan individu yang berbeda satu sama lain yang memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda. Karena adanya perbedaan ini, manusia yang satu membutuhkan manusia yang lain sehingga manusia harus menjadi makhluk sosial yang berinteraksi dengan sesama. Seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman dan Bintoro dalam Nurhadi, dkk (2004:60) :
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis mengembangkan interaksi yang saling mencerdaskan, saling menyayangi dan saling tenggang rasa antar sesama siswa sebagai latihan untuk hidup dalam masyarakat nyata, sehingga sumber belajar bukan hanya dari guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.

Selanjutnya Ibrahim, dkk (2000:9) menyatakan :
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk berbaik saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.

Sedangkan Aburrahman (1999:122) mengatakan :
Nilai hasil belajar kelompok ditentukan oleh rata-rata hasil belajar individu pembelajaran kooperatif menampakkan wujudnya dalam bentuk belajar kelompok. Dalam belajar kooperatif anak tidak diperkenankan mendominasi atau menggantungkan diri pada orang lain, tiap anggota kelompok dituntut untuk memberikan urunan bagi keberhasilan kelompok.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan pembelajaran kooperatif adalah salah satu strategi pembelajaran dimana siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat sampai enam orang yang heterogen untuk berbaik, saling membantu diantara anggota kelompok untuk menyelesaikan tugas bersama. Dengan pembelajaran kooperatif ini siswa belajar berkolaborasi untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan dalam suasana belajar kelompok yang nantinya dapat mencapai potensi yang optimal.

Akan tetapi para pengajar sangat enggan menerapkan pembelajaran di kelas dengan azas gotong royon. Lie (2007:27) mengemukakan beberapa alasan mengapa para pengajar enggan menerapkan azas tersebut, demikian diantaranya :
a.       Kekhawatiran akan terjadinya kekacauan di kelas
b.      Adanya siswa yang tidak suka belajar berkelompok, lebih memilih belajar secara individu.
c.       Siswa yang malas lebih mengandalkan temannya yang tekun dan siswa yang tekun merasa dituntut bekerja secara ekstra dalam kelompoknya.
d.      Adanya perasaan minder bagi siswa yang kurang mampu belajar bersama siswa yang lebih pandai.

Hal-hal tersebut diatas dapat dikendalikan oleh pembelajaran kooperatif, karena pembelajaran kooperatif memiliki unsur-unsur tertentu untuk memungkinkan proses belajar dan pembelajaran di kelas secara efektif.



BAB III
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) secara etimologi mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan kooferative learning dalam artian yang lebih luas memiliki definisi yang antara lain adalah belajar bersama yang melibatkan antara 4-5 orang, yang bekerja bersama menuju kelompok kerja dimana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian dari hasil yang tak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama antar kelompok. Pembelajaran kooperatif ( cooperative learning ) mengandung arti keterlibatan secara proaktif antar kelompok yang melibatkan pada proses kognisi, afeksi, dan konasi.

Sugandi (2002:14) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok”. Dari uraian tersebut dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Falsafah yang mendasari pembelajaran cooperative learning (pembelajaran gotong royong) dalam pendidikan adalah homo homini socius yang menekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

B.     Prinsip-Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
a.      Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kooperatif
Prinsip dasar pembelajaran kooperatife memiliki 4 prinsip dasar :
1.      Prinsip ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kelompok, keberhasilan suatu penyelesaian tugas sangat tergantung terhadap usaha yang dilakukan setiap anggota kelompoknya.

2.      Tanggung jawab perseorangan
Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip yang pertama karena keberhsilan kelompok tergantung setiap anggotanya. Maka setiap anggota kelompok harus memiliki tanggung jawab sesuai tugasnya.

3.      Interaksi tatap muka
Pembelajaran kooperatif memberi ruang dan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka saling memberikan informasi dan saling membelajarkan. Interaksi tatap muka akan memberikan pengalaman yang berharga kepada setiap anggota kelompok untuk bekerjasama, menghargai setiap perbedaan, memanfaatkan kelebihan masingmasing anggota dan mengisi kekurangan masingmasing.

4.      Partisipasi dan komunikasi
Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dikehidupan masyarakat kelak. Oleh karena itu, sebelum melakukan pembelajaran guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi.

b.      Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
1.      Dalam kelompoknya, siswa haruslah beranggapan bahwa mereka “sehidup sepenanggungan”.
2.      Siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lainnya dalam kelompok, di samping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3.      Siswa haruslah berpandangan bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.      Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.      Siswa akan diberikan evaluasi atau penghargaan yang akan berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.      Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7.      Siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani di dalam kelompoknya.

C.    Prosedur pembelajaran kooperatif
a.       Menetapkan tujuan pembelajaran, aktifis dan penghargaan
Yaitu membuat keputusan sejak awal tentang tujuan pembelajaran dan jenis aktifitas yang sesuai dengan mereka. Keputusan harus dibuat tentang apakah tujuan pembelajaran diambil dari domain kognitif (dalam area keahlian akademis), afektif (dalam area sikap dan nilai), atau domain psikomotor (kealian fisik). Tugas lain menanyakan keahlian yangdiperlukan untuk bekerjasama untuk tujuan kelompok (Johnson 1988). Penghargaan itu sendiri perlu untuk dipilih. Kebanyakan guru lebih suka memilih penghargaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan ekspetasi kelompok.
b.      Komposisi kelompok
Merupakan bentuk praktek yang baik untuk membentuk kelompok yang terdiri dari seorang siswa yang mempunyai kemampuan diatas ratarata. Dua sampai empat siswa dengan kemampuan rata-rata dan seorang siswa dengan kemampuan dibawah rata- rata atau anakanak dengan kebutuhan khusus.
c.       Kerja sama yang efektif
Yaitu dengan cara menjelaskan kepada siswa bagaimana cara anggota kelompok harus bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Prosedur untuk kerjasama yang efektif harus dibuat secara eksplisit. Kolaborasi diantara siswa vital untuk kesuksesan prosedur ini.
d.      Prilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima
Guru harus memberikan penjelasan secara tegas tentang apa yang akan diterima dan yang tidak dapat diterima dalam kelompok dengan tepat sebelun kelompok mulai mengerjakan tugasnya.
e.       Periode percobaan dan umpan balik
f.       Guru harus memberikan umpan balik kepada kelompok tentang kualiatas kelompok dan kinerja indivu. Penting bagi individu untuk menerima umpan balik secara awal.
g.      Bantuan dari guru kepada siswa
Guru atau pengajar khusus harus dipersiapkan untuk memberikan bantuan ekstra atau bantuan tambahan kepada siswa yang mempunyai masalah belajar ketika hal itu diperlukan. Siswa harus diberitahukan bagaimana dan kapan mereka harus mencari bantuan tersebut.
h.      Melakukan evaluasi
Guru harus melakukan evaluasi tentang prosedur pembelajaran kooperatif learning. Kebanyakan guru ingin memberikan pertanyaan yang lebih tepat tentang evaliasi. Kulitas hasil dan jumlah wakti yang diperlukan untuk pembentukan kelompok perlu dipertimbangkan.

D.    Tujuan pembelajaran kooperatif
a.      Hasil belajar akademik
Pembelajaran kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

b.      Penerimaan terhadap penerimaan terhadap individu
Efek penting yang kedua adalah penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas social, kemampuan dan ketidakmampuan.

c.       Pengembangan ketermpilan social
Model pembelajaran kooperatif bertujuan mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerjasama dan kolaborasi.

E.     TipeTipe dari Pembelajaran Kooperatif
Berikut ini adalah beberapa tipe dari model pembelajaran kooperatif.
a.      Tipe STAD (Student Team Achievement Division)
Pembelajaran kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan temantemannya di Universitas John Hopkin merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru menggunakan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari lima tahapan utama sebagai berikut: Presentasi kelas. Materi pelajaran dipresentasikan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran. Siswa mengikuti presentasi guru dengan seksama sebagai persiapan untuk mengikuti tes berikutnya.
1.      Kerja kelompok.
Kelompok terdiri dari 4-5 orang. Dalam kegiatan kelompok ini, para siswa bersama-sama mendiskusikan masalah yang dihadapi, membandingkan jawaban, atau memperbaiki miskonsepsi. Kelompok diharapkan bekerja sama dengan sebaik-baiknya saling membantu dalam memahami materi pelajaran.
2.      Tes.
Setelah kegiatan presentasi guru dan kegiatan kelompok, siswa diberikan tes secara individual. Dalam menjawab tes, siswa tidak diperkenankan saling membantu.
3.      Peningkatan skor individu.
Setiap anggota kelompok diharapkan mencapai skor tes yang tinggi karena skor ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan skor rata-rata kelompok.
4.      Penghargaan kolompok.
Kelompok yang mencapai ratarata skor tertinggi, diberikan penghargaan.

b.      Tipe Think Pair Share
ThinkPairShare merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985. ThinkPairShare memberikan kepada para siswa waktu untuk berpikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain.

Tahapan pembelajaran kooperatif tipe ThinkPairShare adalah sebagai berikut:
1.      Berpikir (Think): Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran dan siswa diberi waktu untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri.
2.      Berpasangan (Pair): Guru meminta para siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang telah dipikirkan. Interaksi selama periode ini dapat menghasilkan jawaban bersama jika suatu pertanyaan telah diajukan atau penyampaian ide bersama jika suatu isu khusus telah diidentifikasi. Biasanya guru mengizinkan tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan
3.      Berbagi (Share): Pada langkah akhir ini guru meminta pasanganpasangan tersebut untuk berbagi atau bekerjasama dengan kelas secara keseluruhan mengenai apa yang telah mereka bicarakan. Pada langkah ini akan menjadi efektif jika guru berkeliling kelas dari pasangan satu ke pasangan yang lain, sehingga seperempat atau setengah dari pasanganpasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melapor.

c.       Tipe Jigsaw
Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok.

d.      Tipe NHT (Numbered Heads Together)
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together (Kepala bernomor) dikembangkan Spencer Kagan. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang paling tepat. Selain itu teknik ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Maksud dari kepala bernomor yaitu setiap anak mendapatkan nomor tertentu, dan setiap nomor mendapatkaan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menguasai materi.
Adapun langkahlangkah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered heads together antara lain:
1.      Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2.      Guru memberikan tugas dan masingmasing kelompok mengerjakannya.
3.      Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya.
4.      Guru memanggil salah satu nomor siswa dan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5.      Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.

e.       Tipe GI (Group Investigation)
Pembelajaran kooperatif tipe GI didasari oleh gagasan John Dewey tentang pendidikan yang menyimpulkan bahwa kelas merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan di dunia nyata yang bertujuan mengkaji masalahmasalah sosial dan antar pribadi. Pada dasarnya model ini dirancang untuk membimbing para siswa mendefinisikan masalah, mengeksplorasi berbagai hal mengenai masalah itu, mengumpulkan data yang relevan, mengembangkan dan menguji hipotesis. Tahapantahapan dalam menerapkan pembelajaran kooperatif GI adalah sebagai berikut:
1.      Tahap Pengelompokan (Grouping),
Yaitu tahap mengidentifikasi topik yang akan diinvestigasi serta mebentuk kelompok investigasi, dengan anggota tiap kelompok 4 sampai 5 orang. Pada tahap ini, yang pertama siswa mengamati sumber, memilih topik, dan menentukan kategorikategori topik permasalahan kemudian siswa bergabung pada kelompokkelompok belajar berdasarkan topik yang mereka pilih atau menarik untuk diselidiki, lalu guru membatasi jumlah anggota masingmasing kelompok antara 4 sampai 5 orang berdasarkan keterampilan dan keheterogenan.

2.      Tahap Perencanaan (Planning)
Tahap Planning atau tahap perencanaan tugastugas pembelajaran. Pada tahap ini siswa bersamasama merencanakan tentang: Apa yang mereka pelajari?, Bagaimana mereka belajar?, Untuk tujuan apa mereka menyelidiki topik tersebut?

3.      Tahap Penyelidikan (Investigation)
Tahap Investigation, yaitu tahap pelaksanaan proyek investigasi siswa. Pada tahap ini, siswa melakukan kegiatan sebagai berikut: pertama siswa mengumpulkan informasi, menganalisis data dan membuat simpulkan terkait dengan permasalahan-permasalahan yang diselidiki, kemudian masing-masing anggota kelompok memberikan masukan pada setiap kegiatan kelompok, lalu siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi dan mempersatukan ide dan pendapat.

4.      Tahap Pengorganisasian (Organizing)
Yaitu tahap persiapan laporan akhir. Pada tahap ini kegiatan siswa sebagai berikut: pertama anggota kelompok menentukan pesanpesan penting dalam proteknya masingmasing, kemudian anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan dan bagaimana mempresentasikannya, lalu wakil dari masingmasing kelompok membentuk panitia diskusi kelas dalam presentasi investigasi.

5.      Tahap Presentasi (Presenting)
Tahap presenting yaitu tahap penyajian laporan akhir. Kegiatan pembelajaran di kelas pada tahap ini adalah sebagai berikut: pertama, penyajian kelompok pada keseluruhan kelas dalam berbagai variasi bentuk penyajian, kelompok yang tidak sebagai penyaji terlibat secara aktif sebagai pendengar, kemudian pendengar mengevaluasi, mengklarifikasi dan mengajukan pertanyaan atau tanggapan terhadap topik yang disajikan.

6.      Tahap Evaluasi (Evaluating)
Pada tahap evaluating atau penilaian proses kerja dan hasil proyek siswa. Pada tahap ini, kegiatan guru atau siswa dalam pembelajaran sebagai berikut: pertama siswa menggabungkan masukanmasukan tentang topiknya, pekerjaan yang telah mereka lakukan, dan tentang pengalamanpengalaman efektifnya, kemudian guru dan siswa mengkolaborasi, mengevaluasi tentang pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan penilaian hasil belajar haruslah mengevaluasi tingkat pemahaman siswa.

f.        Tipe CIRC (Cooperatif Integrated Reading And Composition)
Pembelajaran CIRC dikembangkan oleh Stevans, Madden, Slavin dan Farnish. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC dari segi bahasa dapat diartikan sebagai suatu model pembelajaran kooperatif yang mengintegrasikan suatu bacaan secara menyeluruh kemudian mengkomposisikannya menjadi bagianbagian yang penting. Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini terdapat siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masingmasing siswa sebaiknya merasa cocok satu sama lain. Dalam kelompok ini tidak dibedakan jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi. Sebelum dibentuk kelompok, siswa diajarkan bagaimana bekerjasama dalam suatu kelompok. Siswa diajari menjadi pendengar yang baik, siswa juga dapat memberikan penjelasan kepada teman sekelompok, berdiskusi, mendorong teman lain untuk bekerjasama, menghargai pendapat teman lain, dan sebagainya. Model pembelajaran ini, dibagi menjadi beberapa fase :
1.      Fase Orientasi
Pada fase ini, guru memberikan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu guru juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.

2.      Fase Organisasi
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.

3.      Fase Pengenalan Konsep
Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kliping, poster atau media lainnya.

4.      Fase Publikasi
Siswa mengkomunikasikan hasil temuantemuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.

5.      Fase Penguatan dan Refleksi
Pada fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasanpenjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan untuk merefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.

g.      Tipe Membuat Pasangan (Make A Match)
Metode pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994. Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkahlangkah penerapan metode make a match sebagai berikut :
1.      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi pemilihan, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2.      Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3.      Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.      Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya.
5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6.      Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7.      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.      Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9.      Guru bersamasama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.

h.      Tipe TSTS ( Two Stay Two Stray)
Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS (Two Stay Two Stray) dikembangkan oleh Spencer Kagan. Metode ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia. Metode pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray merupakan sistem pembelajaran kelompok dengan tujuan agar siswa dapat saling bekerjasama, bertanggung jawab, saling membantu memecahkan masalah dan saling mendorong untuk berprestasi. Metode ini juga melatih siswa untuk bersosialisasi dengan baik.

Langkahlangkah pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray seperti yang diungkapkan, antara lain:
1.      Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari empat siswa. Kelompok yang dibentuk pun merupakan kelompok heterogen seperti pada pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray yang bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membelajarkan dan saling mendukung. Guru memberikan subpokok bahasan pada tiaptiap kelompok untuk dibahas bersama-sama dengan anggota kelompoknya masing-masing. Siswa bekerjasama dalam kelompok beranggotakan empat orang. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir. Setelah selesai, dua orang dari masingmasing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain. Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. Kelompok mencocokkan dan membahas hasilhasil kerja mereka. Masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka.

F.     Kelebihan dan Kekurangan dari Pembelajaran Kooperatif
a.      Keunggulan Pembelajaran Kooperatif
1.      Melalui model pembelajaran kooperatif, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa yang lain.
2.      Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan, mengungkapkan ide atau gagasan dengan katakata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
3.      Model pembelajaran kooperatif dapat membantu siswa untuk menhargai orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
4.      Model pembelajaran kooperatif dapat memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
5.      Model pembelajaran kooperatif merupakan strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain, mengembangkan keterampilan, dan sikap positif terhadap sekolah.
6.      Model pembelajaran kooperatif dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahaman sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
7.      Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa mengelola informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
8.      Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan berfikir. Hal ini berguna untuk pendidikan jangka panjang.

b.      Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif
1.      Guru harus mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu.
2.      Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai.
3.      Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang dibahas meluas sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
4.      Saat diskusi terkadang didominasi seseorang, hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif.
5.      Bisa menjadi tempat mengobrol atau gosip.Hal ini terjadi jika anggota kelompok tidak mempunyai kedisiplinan dalam belajar, seperti datang terlambat, mengobrol atau bergosip membuat waktu berlalu begitu saja sehingga tujuan untuk belajar menjadi sia-sia.



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompokkelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Prinsipprinsip pembelajaran kooperatif yaitu saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, tanggung jawab perseorangan, komunikasi antar anggota kelompok, evaluasi proses kelompok.

Karakteristik pembelajaran kooperatif yaitu siswa harus memiliki tujuan yang sama, rasa saling menolong, saling bertukar pikiran, saling menghargai, saling membagi tugas, dan dapat dipertanggungjawabkan secara kolompok. Tipetipe pembelajaran kooperatif yaitu tipe STAD (Student Team Achievement Division) yang dikembangkan oleh Slavintahun 1978, tipe Jigsaw yang dikembangkan oleh Elliot Arronson dan temannya tahun 1978, tipe GI (Group Investigation) oleh Sholomo Sharan dan temannya tahun 1984, tipe TSP (Think Pair Share), tipe NHT (Numbered Heads Together), tipe TSTS (Two Stay Two Stray) yang dikembangkan oleh Spencer Kagan, tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang dikembangkan oleh Slavin, Stevans, Madden, dan Farnish, tipe Membuat Pasangan (Make A Match) dikembangkan oleh Lorna Curran tahun 1994.

Keunggulan model pembelajaran kooperatif yaitu: siswa tidak bergantung kepada guru, mampu mengekplorasikan ide dan gagasannya, saling menerima perbedaan, saling bertukar pendapat, meningkatkan semangat belajar, siswa menjadi aktif. Kelemahan model pembelajaran kooperatif yaitu: dibutuhkan tenaga yang lebih dari guru untuk mengatur siswadan menyiapkan materi, dapat terjadi perdebatan kecil, siswa lebih cenderung bergurau dengan temannya, membutuhkan fasilitas yang memadai, terjadi perluasan masalah sehingga waktu terbuang siasia, terkadang diskusi didominasi seseorang saja sehingga siswa lain menjadi pasif.

B.     Saran
Untuk para pengajar dalam proses pembelajaran lebih baik menggunakan strategi kooperatif dengan berbagai tipe seperti penjelasan di atas karena dapat membuat siswa lebih cepat menerima daripada menggunakan strategi yang konvensional.

Apabila menggunakan pembelajaran kooperatif guru harus selalu membimbing siswa dalam berdiskusi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Untuk mendapatkan hasil yang optimal setiap siswa harus aktif dalam berdiskusi dan harus saling menghargai setiap pendapat, ide, atau gagasan dari anggota yang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar